Tugas Terstruktur 5 "Siklus Hidup Pensil"
Batas Sistem yang Digunakan
Analisis siklus hidup pensil ini menggunakan batas sistem cradle-to-grave yang mencakup seluruh perjalanan produk mulai dari bahan baku hingga menjadi limbah. Ruang lingkup evaluasi dirancang untuk menangkap aspek-aspek paling relevan yang memberikan kontribusi signifikan terhadap dampak lingkungan.
Cakupan analisis meliputi:
-
Tahap ekstraksi bahan baku, yang mencakup penebangan kayu, penambangan grafit dan tanah liat, serta produksi logam dan karet sintetis. Semua kegiatan terkait konsumsi energi, penggunaan alat berat, dan emisi dari kendaraan pengangkut bahan mentah termasuk dalam batas sistem.
-
Tahap produksi di pabrik, meliputi pemotongan dan pemrosesan kayu, pembuatan batang grafit, proses perakitan, pelapisan, pengecatan, pemasangan penghapus, dan pengemasan. Konsumsi energi listrik, penggunaan bahan kimia, serta limbah proses produksi ikut dipertimbangkan.
-
Distribusi dan logistik, baik transportasi internasional dari negara produsen menuju Indonesia maupun distribusi domestik dari pelabuhan ke gudang, toko, dan konsumen. Emisi dari moda transportasi (kapal, truk, pesawat) juga termasuk dalam batas sistem.
-
Tahap penggunaan, yaitu interaksi konsumen dengan pensil. Meski tidak memerlukan energi tambahan, aktivitas meraut yang menghasilkan limbah kecil (serbuk kayu, grafit) tetap diperhitungkan sebagai bagian dari fase konsumsi.
-
Pengelolaan limbah, mencakup skenario pembuangan pensil bekas ke tempat sampah domestik. Karena pensil memiliki campuran material yang sulit dipisahkan, analisis mencakup potensi pensil menjadi limbah residu jangka panjang di TPA.
Yang tidak termasuk dalam batas sistem:
• proses daur ulang skala industri, karena pensil umumnya tidak dikumpulkan kembali untuk diproses ulang;
• dampak sosial atau ekonomi di luar konteks lingkungan;
• penggunaan alat bantu seperti rautan, kecuali terkait residu yang dihasilkan dari meraut pensil.
Asumsi
Untuk menjaga konsistensi analisis dan mempermudah interpretasi data, beberapa asumsi dasar digunakan dalam studi siklus hidup pensil ini.
-
Jenis material pensil mengikuti komposisi umum: kayu sebagai badan pensil, campuran grafit–tanah liat sebagai isi, karet sintetis sebagai penghapus, dan ferule berbahan logam tipis (aluminium atau besi). Asumsi ini digunakan karena variasi komposisi antar-merek relatif kecil.
-
Lokasi produksi diasumsikan berada di luar negeri—misalnya Tiongkok—karena sebagian besar pensil yang beredar di Indonesia merupakan produk impor. Hal ini mempengaruhi estimasi emisi transportasi internasional.
-
Transportasi material dan distribusi dianggap menggunakan moda konvensional berbahan bakar fosil, seperti truk diesel dan kapal laut kontainer. Tidak diasumsikan adanya penggunaan transportasi rendah emisi seperti kendaraan listrik atau kapal berbahan bakar alternatif.
-
Masa pakai produk ditetapkan rata-rata 6 bulan, berdasarkan estimasi penggunaan harian oleh pelajar atau pekerja. Walaupun masa pakai dapat bervariasi antara 4–12 bulan, nilai rata-rata dipilih untuk mempermudah perhitungan.
-
Kondisi penggunaan dianggapkan normal—pensil digunakan hingga ukurannya terlalu pendek untuk digenggam. Aktivitas meraut pensil menghasilkan serbuk kayu dan grafit yang tidak dikumpulkan untuk daur ulang.
-
Skenario limbah menetapkan bahwa pensil dibuang ke tempat sampah domestik dan berakhir di TPA tanpa proses pemilahan. Hal ini menggambarkan kondisi umum di Indonesia, di mana fasilitas daur ulang untuk produk berukuran kecil dan campuran material sangat terbatas.
-
Tidak ada proses daur ulang yang dimasukkan dalam model, baik untuk kayu, logam, maupun karet, karena secara praktis pensil bekas tidak diproses ulang akibat nilai ekonominya rendah dan komposisi materialnya kompleks.
Narasi Analisis
Pensil dipilih sebagai produk analisis karena merupakan alat tulis yang sangat umum digunakan oleh pelajar, mahasiswa, dan pekerja, serta terlihat sederhana namun ternyata memiliki sistem produksi dan dampak lingkungan yang cukup kompleks. Dari perspektif keberlanjutan, pensil menarik untuk dikaji karena melibatkan penggunaan sumber daya alam seperti kayu dan mineral, serta menghasilkan limbah campuran organik dan anorganik. Kesederhanaan bentuk produk justru membuat kita sering mengabaikan dampak ekologis di balik proses produksinya. Batas sistem analisis mencakup seluruh tahapan siklus hidup pensil mulai dari ekstraksi bahan baku, proses produksi, distribusi, penggunaan oleh konsumen, hingga tahap akhir berupa pembuangan limbah. Analisis ini juga mencakup energi yang digunakan selama proses produksi dan transportasi, serta skenario akhir masa pakai produk, namun tidak mencakup proses daur ulang karena pensil umumnya tidak dikumpulkan kembali secara industri.
Pada tahap ekstraksi bahan baku, kayu diperoleh dari penebangan pohon yang berpotensi menyebabkan deforestasi, hilangnya habitat satwa liar, dan penurunan kualitas udara. Penambangan grafit dan tanah liat juga berdampak pada degradasi lahan dan konsumsi energi dari mesin tambang. Tahap ini juga menghasilkan emisi karbon dari transportasi bahan baku ke pabrik. Tahap produksi merupakan salah satu fase dengan dampak lingkungan terbesar. Pembuatan grafit memerlukan proses pemanasan yang mengonsumsi energi listrik dan bahan bakar fosil, sehingga menghasilkan emisi CO₂. Proses pengecatan dan pelapisan pensil menggunakan bahan kimia yang dapat mencemari air dan tanah jika limbah tidak dikelola dengan baik. Selain itu, pengemasan dengan karton dan plastik juga berkontribusi terhadap produksi limbah. Distribusi produk pensil dari negara produsen menuju negara konsumen (misalnya dari Tiongkok ke Indonesia) menggunakan kapal dan truk yang menghasilkan emisi karbon dari bahan bakar fosil. Pensil sendiri tidak membutuhkan energi saat digunakan, sehingga dampak pada tahap konsumsi relatif rendah, meskipun meraut pensil menghasilkan residu serbuk kayu dan grafit.
Tahap akhir siklus hidup pensil cukup problematik karena pensil mengandung campuran material yang sulit didaur ulang (kayu, grafit, logam, karet, dan cat). Akibatnya, pensil bekas umumnya langsung dibuang dan menjadi limbah campuran yang sebagian tidak terurai dalam jangka panjang, terutama komponen logam dan karet. Untuk mengurangi dampak lingkungan, pensil dapat didesain ulang menggunakan kayu daur ulang atau bambu, menghindari penggunaan cat kimia, serta mengganti penghapus karet sintetis menjadi bahan alami atau biodegradable. Alternatif lain adalah pensil mekanik yang dapat diisi ulang, sehingga mengurangi konsumsi material sekaligus memperpanjang umur produk. Melalui analisis ini, kita menyadari bahwa bahkan produk sederhana seperti pensil memiliki siklus hidup yang panjang dan berdampak signifikan terhadap lingkungan. Kesadaran konsumen, inovasi desain produk, dan kebijakan produksi berkelanjutan perlu berjalan bersama untuk menciptakan produk yang lebih ramah lingkungan.
Komentar
Posting Komentar