Tugas Terstruktur 7 "Dampak Lingkungan Pensil Kayu Berdasarkan Hasil LCI"
Dampak Lingkungan Pensil Kayu Berdasarkan Hasil LCI
Identifikasi 3 Kategori Dampak
Lingkungan
Dalam analisis daur hidup pensil,
tiga kategori dampak lingkungan yang paling relevan untuk dievaluasi adalah Global
Warming Potential (GWP), Acidification, dan Resource Depletion.
Pemilihan ketiga kategori ini didasarkan pada karakteristik utama siklus
hidup pensil, yaitu tingginya penggunaan bahan baku alami seperti kayu, grafit,
tanah liat, serta energi untuk proses produksi. Selain itu, transportasi bahan
baku dari lokasi penebangan, penggergajian kayu, dan distribusi produk akhir
turut menghasilkan emisi yang berkontribusi pada perubahan iklim dan pencemaran
udara. Proses kimia yang digunakan dalam pengeringan cat dan perakitan komponen
pensil juga berpotensi menghasilkan emisi yang mencetuskan keasaman lingkungan
dan menurunkan kualitas sumber daya alam. Dengan demikian, ketiga kategori ini
mencerminkan dampak lingkungan paling dominan yang ditimbulkan sepanjang siklus
hidup pensil.
Potensi
Dampak untuk Masing-Masing Kategori
Pada kategori Global
Warming Potential (GWP), potensi dampak utamanya berasal dari konsumsi
energi dalam tahap produksi, seperti penggunaan listrik untuk pemotongan kayu,
pengeringan material, dan proses pemanasan campuran grafit–tanah liat. Emisi
CO₂ juga meningkat akibat penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil untuk
transportasi kayu dari hutan ke pabrik serta pendistribusian pensil ke pasar.
Selain itu, degradasi hutan akibat penebangan kayu untuk batang pensil dapat
mengurangi kapasitas penyerapan karbon alamiah, sehingga memperkuat efek pemanasan
global dalam jangka panjang.
Untuk kategori
Acidification, potensi dampaknya terutama muncul dari emisi gas seperti
SO₂ dan NOₓ yang dihasilkan selama pembakaran bahan bakar pada mesin produksi
dan transportasi. Gas-gas ini dapat teroksidasi di atmosfer dan menghasilkan
hujan asam, yang pada akhirnya merusak tanah, tanaman, dan ekosistem perairan.
Tahap produksi yang menggunakan pengering cat atau vernis dengan pemanasan
tinggi juga memungkinkan pelepasan senyawa volatil yang ikut memperburuk
kondisi keasaman lingkungan sekitar pabrik.
Sementara itu,
pada kategori Resource Depletion, dampak yang paling signifikan terlihat
dari penggunaan kayu sebagai bahan baku utama. Produksi pensil yang terus
meningkat berpotensi mempercepat konsumsi sumber daya hutan, terutama jika kayu
tidak berasal dari kawasan yang dikelola secara berkelanjutan. Selain kayu,
grafit sebagai bahan inti pensil merupakan mineral yang memerlukan proses
penambangan intensif, memicu penurunan cadangan mineral dalam jangka panjang.
Konsumsi energi dalam seluruh tahapan siklus hidup juga mempercepat pengurasan
sumber daya tidak terbarukan seperti batubara dan minyak bumi, khususnya bila
pabrik masih bergantung pada energi fosil.
Tabel
Analisis Dampak Lingkungan – Pensil Kayu
|
Kategori Dampak |
Data Input Terkait (LCI) |
Potensi Dampak Lingkungan |
|
Global Warming Potential (GWP) |
•
Konsumsi bahan bakar pada transportasi bahan baku dan distribusi (truk/kapal)
• Energi listrik dalam proses manufaktur |
•
Emisi CO₂ dari transportasi dan listrik meningkatkan kontribusi pemanasan
global • Proses penebangan dan pengolahan kayu menghasilkan jejak karbon
tambahan |
|
Acidification |
•
Emisi SO₂, NOx dari kendaraan pengangkut bahan baku dan distribusi •
Pembakaran bahan bakar fosil pada mesin produksi |
•
Potensi hujan asam yang merusak tanah dan ekosistem hutan • Penurunan
kualitas udara akibat NOx dan SO₂ |
|
Resource Depletion (Renewable
& Non-renewable) |
• Kayu pinus sebagai bahan utama
(sumber daya terbarukan namun membutuhkan waktu tumbuh lama) • Logam tipis
untuk ferule (aluminium/besi) • Grafit sebagai mineral alami |
•
Pengurangan stok kayu bila tidak dikelola secara berkelanjutan • Konsumsi
logam dan grafit menurunkan cadangan mineral bumi • Ketergantungan pada
sumber daya yang tidak terbarukan |
Interpretasi
Singkat
Dari ketiga
kategori dampak yang dianalisis, Global Warming Potential (GWP) menjadi
yang paling signifikan karena proses transportasi bahan baku kayu dan grafit,
serta distribusi produk akhir, memberikan kontribusi emisi terbesar dalam
siklus hidup pensil kayu. Penggunaan energi listrik dalam manufaktur juga
menambah jejak karbon terutama jika bersumber dari pembangkit fosil. Untuk
mengurangi dampak ini, produsen dapat mengoptimalkan logistik (misalnya,
pengangkutan massal atau memilih rute yang efisien), menggunakan energi
terbarukan dalam proses produksi, serta mendukung program reboisasi untuk
memastikan pasokan kayu yang berkelanjutan. Selain itu, mengganti ferule logam
dengan bahan biodegradable atau mengurangi penggunaannya dapat menekan konsumsi
sumber daya tidak terbarukan. Alternatif lain adalah menggunakan kayu bersertifikat
FSC atau bahkan material komposit dari serat bambu yang tumbuh lebih cepat dan
lebih ramah lingkungan.
Komentar
Posting Komentar