Tugas Mandiri 13 "AUDIT ENERGI BENGKEL LISTRIK DOA IBU"
Pendahuluan
Konsumsi energi pada skala usaha kecil sering kali tidak disadari secara sistematis, padahal secara akumulatif dapat memberikan dampak ekonomi dan lingkungan yang signifikan. Bengkel las listrik sebagai salah satu usaha jasa berbasis peralatan listrik memiliki karakteristik konsumsi energi yang khas, yaitu penggunaan alat berdaya relatif tinggi dengan durasi operasi yang bervariasi. Oleh karena itu, diperlukan pemetaan energi (energy mapping) untuk mengetahui profil konsumsi energi dan mengidentifikasi titik konsumsi energi tertinggi (energy hotspot).
Melalui tugas ini, dilakukan observasi langsung terhadap sebuah bengkel las listrik skala kecil dengan tujuan menginventarisasi peralatan yang menggunakan energi, menghitung konsumsi energi masing-masing alat, serta menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan tingginya konsumsi energi pada peralatan tertentu. Hasil analisis diharapkan dapat menjadi dasar dalam memberikan usulan perbaikan efisiensi energi tanpa mengurangi kualitas produksi.
Deskripsi Fasilitas
Nama Fasilitas: Bengkel Las Listrik Doa Ibu
Jenis Usaha: Jasa pengelasan dan fabrikasi logam
Skala Usaha: Usaha mikro/kecil
Lokasi: Cibubur, Jakarta Timur
Deskripsi Umum:
Bengkel Las Listrik Doa Ibu merupakan bengkel las skala kecil yang melayani pembuatan dan perbaikan produk berbahan logam seperti pagar, teralis, kanopi, rak besi, serta perbaikan konstruksi logam ringan. Aktivitas produksi dilakukan hampir setiap hari kerja, terutama pada siang hingga sore hari. Seluruh proses pengelasan dan pekerjaan pendukung mengandalkan energi listrik dari jaringan PLN.
Bengkel ini menggunakan beberapa peralatan utama yang beroperasi secara bergantian maupun bersamaan, tergantung pada jenis pekerjaan yang sedang dikerjakan. Selain peralatan utama, terdapat pula peralatan pendukung seperti pencahayaan dan alat tangan listrik yang meskipun berdaya kecil, namun digunakan dalam durasi yang relatif lama.
Inventarisasi Peralatan (Energy Mapping)
Inventarisasi peralatan dilakukan dengan mencatat seluruh alat yang menggunakan energi listrik, spesifikasi daya, durasi pemakaian harian, serta frekuensi penggunaan dalam satu minggu.
Tabel Inventarisasi Peralatan
| No | Nama Alat | Spesifikasi Daya | Durasi Penggunaan (Jam/Hari) | Frekuensi (Hari/Minggu) |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Mesin Las Listrik | 900 Watt | 3 jam | 5 hari |
| 2 | Kompresor Udara | 1,5 HP (±1120 Watt) | 2 jam | 6 hari |
| 3 | Gerinda Tangan | 600 Watt | 1 jam | 5 hari |
| 4 | Bor Listrik | 500 Watt | 0,5 jam | 5 hari |
| 5 | Lampu Kerja | 20 Watt | 8 jam | 6 hari |
Dari tabel di atas terlihat bahwa peralatan yang digunakan memiliki variasi daya dan pola pemakaian yang berbeda, sehingga diperlukan perhitungan konsumsi energi untuk mengetahui kontribusi masing-masing alat terhadap total konsumsi energi bengkel.
Penghitungan Konsumsi Energi
Penghitungan konsumsi energi dilakukan menggunakan satuan kWh (kilowatt-hour) karena seluruh peralatan menggunakan energi listrik.
Rumus yang digunakan:
Konsumsi Energi(kWh) = (Daya(Watt) x Jam Operasi x Hari)/1000
Hasil Penghitungan Konsumsi Energi Mingguan
| Nama Alat | Perhitungan | Konsumsi Energi (kWh/minggu) |
|---|---|---|
| Mesin Las Listrik | (900 × 3 × 5) / 1000 | 13,50 |
| Kompresor Udara | (1120 × 2 × 6) / 1000 | 13,44 |
| Gerinda Tangan | (600 × 1 × 5) / 1000 | 3,00 |
| Bor Listrik | (500 × 0,5 × 5) / 1000 | 1,25 |
| Lampu Kerja | (20 × 8 × 6) / 1000 | 0,96 |
| Total | 32,15 kWh/minggu |
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa total konsumsi energi Bengkel Las Listrik Doa Ibu mencapai 32,15 kWh per minggu.
Identifikasi Konsumsi Energi Tertinggi (Energy Hotspot)
Berdasarkan hasil perhitungan dan visualisasi menggunakan diagram lingkaran (pie chart), dapat diidentifikasi bahwa:
Mesin Las Listrik merupakan alat dengan konsumsi energi tertinggi, yaitu 13,50 kWh/minggu.
Kompresor Udara berada pada posisi kedua dengan konsumsi 13,44 kWh/minggu, yang nilainya hampir setara dengan mesin las.
Peralatan lain seperti gerinda, bor, dan lampu kerja memberikan kontribusi yang jauh lebih kecil terhadap total konsumsi energi.
Analisis Penyebab Tingginya Konsumsi Energi
Tingginya konsumsi energi pada mesin las listrik disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu:
Daya listrik yang relatif besar, karena proses pengelasan membutuhkan arus tinggi untuk menghasilkan panas yang cukup untuk melelehkan logam.
Durasi penggunaan yang cukup konsisten, yaitu sekitar 3 jam per hari selama 5 hari kerja.
Sementara itu, meskipun kompresor udara memiliki daya yang besar dan frekuensi penggunaan lebih tinggi, durasi pemakaiannya sedikit lebih singkat dibanding mesin las. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi energi tidak hanya ditentukan oleh daya alat, tetapi juga oleh pola dan durasi pemakaian.
Selain itu, mesin las listrik menghasilkan panas dan percikan api, yang menandakan adanya emisi panas langsung ke lingkungan kerja, meskipun tidak menghasilkan emisi gas buang secara langsung seperti mesin berbahan bakar fosil.
Usulan Perbaikan Efisiensi Energi
Berdasarkan identifikasi energy hotspot, fokus perbaikan diarahkan pada mesin las listrik sebagai pengonsumsi energi terbesar.
Usulan Perbaikan:
Mengganti mesin las konvensional dengan mesin las inverter hemat energi.
Mengatur jadwal kerja pengelasan yang lebih terencana, sehingga mesin tidak sering berada pada kondisi menyala tanpa beban (idle).
Alasan Teknis:
Mesin las inverter memiliki efisiensi konversi energi listrik yang lebih tinggi dibanding mesin las konvensional, sehingga mampu menghasilkan kualitas pengelasan yang sama dengan konsumsi energi yang lebih rendah. Pengurangan waktu idle juga dapat menekan konsumsi energi tanpa memengaruhi kualitas hasil produksi maupun produktivitas bengkel.
Kesimpulan
Hasil observasi pada Bengkel Las listrik Doa Ibu menunjukkan bahwa konsumsi energi terbesar berasal dari peralatan berdaya tinggi yang digunakan secara rutin, khususnya mesin las listrik. Analisis ini menegaskan bahwa alat dengan daya tertinggi belum tentu menjadi satu-satunya penyebab tingginya konsumsi energi, melainkan harus dilihat bersama dengan faktor durasi dan frekuensi penggunaan. Melalui penerapan peralatan yang lebih efisien dan pengelolaan waktu operasi yang lebih baik, konsumsi energi bengkel dapat ditekan tanpa menurunkan kualitas layanan dan hasil produksi.
Komentar
Posting Komentar