Tugas Terstruktur 13 "Analisis Aliran Energi dan Jejak Karbon pada Proses Produksi Toko Roti dan Pabrik Mikro Ngudi Rasa"
A. Profil Unit Usaha dan Diagram Alir Proses Produksi
Ngudi Rasa merupakan unit usaha skala mikro yang menjalankan dua fungsi utama secara bersamaan, yaitu sebagai tempat produksi roti dan sebagai toko penjualan langsung kepada konsumen. Unit usaha ini beroperasi setiap hari dengan sistem produksi berbasis pesanan dan penjualan harian, sehingga proses produksi dilakukan secara rutin dan berulang. Produk yang dihasilkan meliputi roti tawar, roti manis, dan roti isi dengan variasi rasa, yang diproduksi dalam jumlah rata-rata sekitar 100 hingga 120 buah roti per hari atau sekitar 3.000 buah roti per bulan.
Alur proses produksi dimulai dari tahap penerimaan dan penyiapan bahan baku berupa tepung terigu, gula, ragi, telur, margarin, dan air. Seluruh bahan baku tersebut kemudian diproses pada tahap pencampuran menggunakan mesin mixer listrik hingga adonan mencapai tingkat homogenitas tertentu. Setelah proses pencampuran, adonan didiamkan untuk mengalami fermentasi awal selama beberapa waktu guna menghasilkan pengembangan adonan yang optimal. Tahap selanjutnya adalah pembagian dan pembentukan adonan secara manual sesuai dengan jenis produk yang dihasilkan, yang kemudian diikuti dengan fermentasi lanjutan. Adonan yang telah siap selanjutnya dipanggang menggunakan oven berbahan bakar LPG hingga mencapai tingkat kematangan yang diinginkan. Roti yang telah matang kemudian dikeluarkan dari oven dan didinginkan pada suhu ruang sebelum dilakukan pengemasan sederhana. Produk akhir selanjutnya ditempatkan di etalase toko untuk dijual langsung kepada konsumen. Energi masuk ke dalam sistem produksi pada beberapa titik utama, yaitu pada penggunaan mesin mixer, oven pemanggang, lampu penerangan area produksi dan toko, serta peralatan pendukung seperti kipas ventilasi dan etalase pendingin sederhana.
B. Identifikasi Sumber dan Intensitas Energi
Dalam menjalankan aktivitas produksinya, Ngudi Rasa menggunakan dua sumber energi utama, yaitu energi listrik dari jaringan PLN dan energi panas dari LPG. Energi listrik digunakan secara langsung untuk mengoperasikan mesin mixer adonan, penerangan ruang produksi dan toko, kipas ventilasi, serta beberapa peralatan kecil lainnya. Oleh karena itu, energi listrik diklasifikasikan sebagai direct energy karena terlibat langsung dalam proses produksi dan operasional harian.
Energi LPG juga termasuk dalam kategori direct energy karena berfungsi sebagai sumber panas utama pada oven pemanggang roti. Oven merupakan peralatan dengan konsumsi energi terbesar dalam sistem produksi, mengingat proses pemanggangan membutuhkan suhu tinggi dan waktu pemanasan yang relatif lama. Selain kedua sumber energi tersebut, terdapat pula indirect energy yang tidak dihitung secara kuantitatif dalam laporan ini, seperti energi yang terkandung dalam bahan baku roti dan energi yang digunakan dalam proses distribusi bahan baku dari pemasok ke lokasi usaha.
Berdasarkan estimasi operasional bulanan, konsumsi energi listrik di unit usaha ini mencapai sekitar 450 kWh per bulan. Angka ini mencakup penggunaan mesin mixer selama beberapa jam setiap hari, lampu penerangan yang menyala sepanjang jam operasional, serta peralatan pendukung lainnya. Sementara itu, konsumsi LPG tercatat sekitar 12 tabung LPG ukuran 3 kg per bulan, yang setara dengan total massa LPG sebesar 36 kg.
C. Perhitungan Dasar dan Analisis Kuantitatif
Untuk memudahkan analisis dan perbandingan antar sumber energi, seluruh konsumsi energi dikonversikan ke dalam satuan standar Mega Joule (MJ). Energi listrik yang digunakan sebesar 450 kWh per bulan dikonversikan menggunakan faktor konversi 1 kWh setara dengan 3,6 MJ. Dengan demikian, total energi listrik yang dikonsumsi Ngudi Rasa dalam satu bulan adalah sebesar 1.620 MJ. Energi yang berasal dari LPG dihitung berdasarkan nilai kalor rata-rata LPG, yaitu sekitar 46 MJ per kilogram. Dengan konsumsi LPG sebesar 36 kg per bulan, total energi panas yang dihasilkan dari pembakaran LPG mencapai 1.656 MJ per bulan. Apabila kedua sumber energi tersebut dijumlahkan, maka total konsumsi energi unit usaha Ngudi Rasa dalam satu bulan adalah sekitar 3.276 MJ.
Selanjutnya, dilakukan perhitungan intensitas energi untuk mengetahui seberapa besar energi yang dibutuhkan dalam menghasilkan satu unit produk. Dengan total produksi sekitar 3.000 buah roti per bulan, maka intensitas energi produksi dapat dihitung dengan membagi total energi bulanan dengan jumlah produk yang dihasilkan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa intensitas energi produksi di Ngudi Rasa adalah sekitar 1,09 MJ per buah roti. Nilai ini menunjukkan bahwa setiap satu buah roti yang dihasilkan memerlukan energi total sedikit di atas satu Mega Joule dari seluruh sumber energi yang digunakan.
Selain analisis energi, dilakukan pula estimasi jejak karbon berdasarkan faktor emisi standar. Konsumsi energi listrik sebesar 450 kWh per bulan dikalikan dengan faktor emisi listrik PLN sebesar 0,85 kg CO₂ per kWh menghasilkan emisi karbon sekitar 382,5 kg CO₂ per bulan. Emisi ini berasal dari pembangkit listrik yang menyuplai energi ke unit usaha tersebut. Sementara itu, emisi karbon dari penggunaan LPG dihitung berdasarkan faktor emisi sebesar 2,9 kg CO₂ per kilogram LPG. Dengan konsumsi LPG sebesar 36 kg per bulan, total emisi karbon dari pembakaran LPG mencapai sekitar 104,4 kg CO₂ per bulan. Jika emisi dari kedua sumber energi tersebut dijumlahkan, maka total emisi karbon yang dihasilkan oleh aktivitas produksi dan operasional Ngudi Rasa adalah sekitar 486,9 kg CO₂ per bulan. Apabila nilai emisi total tersebut dibagi dengan jumlah produk yang dihasilkan dalam satu bulan, maka diperoleh angka emisi sekitar 0,16 kg CO₂ untuk setiap satu buah roti. Nilai ini dapat digunakan sebagai indikator awal untuk menilai dampak lingkungan dari proses produksi roti pada skala mikro.
D. Analisis Efisiensi Energi dan Rekomendasi
Berdasarkan hasil analisis aliran energi, dapat disimpulkan bahwa titik konsumsi energi terbesar berada pada proses pemanggangan menggunakan oven berbahan bakar LPG. Pada tahap ini, sebagian energi panas yang dihasilkan tidak termanfaatkan secara optimal dan terbuang ke lingkungan akibat sistem isolasi termal oven yang masih sederhana. Selain itu, terdapat potensi pemborosan energi listrik yang berasal dari penggunaan lampu dan peralatan listrik yang tetap menyala meskipun tidak sedang digunakan secara aktif.
Untuk meningkatkan efisiensi energi, beberapa rekomendasi praktis dapat diterapkan pada unit usaha Ngudi Rasa. Rekomendasi pertama adalah meningkatkan efisiensi oven dengan menambahkan lapisan isolasi panas pada dinding oven atau melakukan perawatan rutin agar panas tidak mudah bocor ke lingkungan sekitar. Upaya ini berpotensi menurunkan konsumsi LPG tanpa mengurangi kualitas hasil pemanggangan.
Rekomendasi kedua adalah penerapan manajemen energi listrik yang lebih disiplin, seperti mematikan mesin mixer, kipas, dan lampu penerangan area produksi saat proses produksi telah selesai. Penggunaan lampu LED hemat energi juga dapat menjadi solusi untuk mengurangi konsumsi listrik tanpa mengganggu kenyamanan kerja dan aktivitas penjualan.
Rekomendasi ketiga adalah optimalisasi jadwal dan kapasitas produksi, khususnya pada proses pemanggangan. Dengan memaksimalkan kapasitas oven dalam setiap siklus pemanggangan, jumlah energi yang digunakan per buah roti dapat ditekan, sehingga intensitas energi dan emisi karbon per produk menjadi lebih rendah. Melalui penerapan langkah-langkah tersebut, Ngudi Rasa memiliki potensi untuk meningkatkan efisiensi energi sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan produksinya.
Komentar
Posting Komentar